top of page
Search

Brand Ramai-Ramai Pindah dari Marketplace ke Website Sendiri karena Biaya Admin Naik, Haruskah Ikut Juga?

  • Writer: Diva
    Diva
  • May 15
  • 3 min read

Marketplace Mulai Terasa “Mahal” Buat Banyak Brand

Beberapa tahun lalu, marketplace dianggap jalan tercepat untuk tumbuh. Traffic sudah ada, customer tinggal datang, sistem pembayaran dan logistik sudah siap. Banyak brand lahir dan berkembang besar dari sana.

Tapi sekarang situasinya mulai berubah.

Biaya admin naik. Komisi platform bertambah. Iklan makin kompetitif. Ditambah voucher, subsidi promo, affiliate, gratis ongkir, sampai perang harga yang makin brutal.

Banyak brand mulai merasa satu hal: jualan ramai belum tentu profitnya sehat.

Karena itu, sekarang makin banyak bisnis mulai mendorong customer belanja langsung lewat website sendiri.

Tujuannya jelas: mengambil kembali margin yang selama ini terpotong platform.

Tapi pertanyaannya, apakah semua brand memang harus ikut meninggalkan marketplace?

Belum tentu.

Marketplace Masih Punya Kelebihan yang Sulit Digantikan

Ada asumsi yang mulai sering muncul: “Kalau mau profit besar, harus jualan lewat website sendiri.” Masalahnya, asumsi ini sering terlalu disederhanakan. Karena marketplace sebenarnya bukan cuma tempat transaksi. Mereka adalah sumber traffic dan traffic itu mahal. Banyak customer masih lebih nyaman belanja di marketplace karena:

  • sudah percaya sistemnya,

  • pembayaran lebih praktis,

  • ada promo,

  • pengiriman cepat,

  • dan terbiasa mencari produk lewat search marketplace, bukan website brand.

Artinya, ketika brand keluar dari marketplace, mereka bukan cuma kehilangan biaya admin tapi juga berpotensi kehilangan exposure dan aliran customer baru.

Ini yang sering tidak dihitung.

Website Memang Margin Lebih Besar Tapi Traffic Harus Dicari Sendiri

Di website sendiri, brand punya kontrol lebih besar:

  • data customer lebih lengkap,

  • margin lebih sehat,

  • bebas mengatur promo,

  • tidak bersaing langsung di sebelah kompetitor,

  • dan customer experience bisa dibangun lebih kuat.

Tapi ada trade-off besar: traffic harus dicari sendiri.

Dan mendapatkan traffic hari ini tidak murah.

Brand harus memikirkan:

  • iklan digital,

  • SEO,

  • social media,

  • influencer,

  • email marketing,

  • retargeting,

  • sampai conversion website itu sendiri.

Kalau tidak siap, website bisa jadi hanya “etalase sepi” meskipun tampilannya bagus. Banyak brand underestimate bagian ini karena terlalu fokus menghitung potongan admin marketplace, tapi lupa biaya akuisisi customer di luar marketplace juga bisa sangat tinggi.

Pertanyaan Pentingnya Bukan “Marketplace atau Website”

Sebenarnya framing “harus pilih salah satu” agak menyesatkan. Karena untuk banyak bisnis, marketplace dan website punya fungsi berbeda. Marketplace sering efektif untuk:

  • mencari customer baru,

  • membangun awareness,

  • menangkap demand yang sudah ada,

  • dan memanfaatkan traffic platform.

Sementara website lebih cocok untuk:

  • membangun loyal customer,

  • repeat order,

  • bundling,

  • membership,

  • personalisasi,

  • dan menjaga margin lebih sehat.

Jadi bukan soal pindah total, tapi bagaimana membagi peran channel dengan lebih strategis.

Yang Berbahaya Adalah Ketergantungan Penuh pada Platform

Meski begitu, kekhawatiran banyak brand sebenarnya valid. Kalau seluruh penjualan bergantung pada marketplace, bisnis jadi sangat bergantung pada kebijakan platform:

  • biaya admin bisa naik sewaktu-waktu,

  • algoritma berubah,

  • iklan makin mahal,

  • atau kompetitor bisa muncul tepat di sebelah produk sendiri.

Dalam jangka panjang, ketergantungan penuh memang berisiko.

Karena itu, banyak brand sekarang mulai perlahan membangun aset sendiri:

  • database customer,

  • website,

  • komunitas,

  • email list,

  • atau channel direct selling.

Bukan untuk langsung meninggalkan marketplace, tapi supaya bisnis tidak sepenuhnya “menumpang” pada platform orang lain.

Tidak Semua Brand Siap Fokus ke Website

Ada satu realita yang sering tidak dibahas: tidak semua brand punya kekuatan untuk menarik traffic sendiri. Kalau brand awareness masih rendah, produk belum punya diferensiasi kuat, atau customer datang hanya karena harga murah, pindah ke website belum tentu efektif. Marketplace justru bisa tetap jadi channel utama yang paling realistis. Sebaliknya, brand dengan customer loyal, komunitas kuat, atau repeat order tinggi biasanya lebih mudah mendorong penjualan ke website sendiri.

Artinya, keputusan ini bukan soal ikut tren, tapi soal kesiapan model bisnis.


 
 
 

Comments


Discover Diva to boost your business

More from Diva

Never miss an update

Thanks for submitting!

bottom of page